Unsur-unsur yang perlu ada dalam surat gugatan

Persyaratan yang harus dipenuhi dalam membuat surat gugatan adalah:

Syarat formal

  • Tempat dan tanggal pembuatan surat gugatan
  • Meterai
  • Tandatangan oleh Penggugat atau kuasanya

Syarat substantif

1.Identitas para pihak, yang memuat informasi:

  • Nama lengkap
  • Umur/tempat dan tanggal lahir
  • Pekerjaan
  • Alamat atau domisil

Dalam hal badan hukum, harus disebutkan nama badan hukumnya, dan nama orang yang berwenang mewakili badan hukum tersebut menurut anggaran dasar atau peraturan yang berlaku. Jika merupakan cabang dari badan hukum. Maka tetap harus disebutkan identitas badan hukum tersebut.

Jika gugatan diajukan kepada beberapa orang/badan hukum, maka harus dikualifikasikan sebagai TergugatI, Tergugat II dst. Jika gugatan diajukan oleh beberapa orang, maka harus dikualifikasikan sebagai Penggugat I, Penggugat II dst.

Penggugat harus benar-benar pihak yang berhak untuk mengajukan gugatan tersebut. Jika diajukan oleh orang yang tidak berhak, maka gugatan tidak dapat diterima.

Penggugat harus benar-benar lengkap (semua sudah termasuk). Jika gugatan tidak lengkap para pihaknya, maka gugatan akan dinyatakan tidak dapat diterima (niet onvankelijke verklaard).

2. Posita (fundamentum petendi) : Dalil-dalil konkret tentang adanya hubungan hukum yang merupakan dasar atau alasan dari tuntutan.

Komposisi:

  1. Obyek perkara: Uraian mengenai untuk hal apa gugatan itu diajukan. Misalnya sengketa mengenai kepemilikan tanah, sengketa mengenai perjanjian jual beli atau sengketa mengenai merk dagang.
  2. Fakta-fakta hukum: Uraian mengenai hal-hal yang menyebabkan timbulnya sengketa misalnya apakah ada perjanjian antara penggugat dan tergugat.
  3. Kualifikasi perbuatan tergugat: Perumusan perbuatan meteriil atau formal dari tergugat yang dapat merupakan perbuatan melawan hukum, wanprestasi dsb. Diuraikan pula bagaimana caranya perbuatan itu dilakukan oleh tergugat misalnya tidak melaksanakan kewajibannya berdasarkan perjanjian, atau melanggar Undang-Undang dsb.
  4. Uraian kerugian: Perincian kerugian yang diderita oleh penggugat sebagai akibat perbuatan tergugat. Perincian kerugian materill didukung dengan bukti-bukti tertulis. Kerugian moril hanya berdasarkan taksiran.
  5. Hubungan posita dengan petitum: Posita merupakan dasar dari petitum, oleh karena itu hal-hal yang tidak dikemukakan dalam posita tidak dapat dimohonkan dalam petitum. Hal-hal yang tidak dimintakan dalam petitum dapat dikabulkan asalkan hal itu telah dikemukakan dalam posita.

3. Petitum. Dalam praktek tuntutan atau petitum terdiri dari dua bagian yaitu tuntutan primer dan tuntutan subsider.

Dalam gugatan perlu juga dimintakan sita,tujuannya agar barang berada dalam pengawasan pengadilan sampai ada putusan tetap atas gugatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: