Di sebuah sasana, yang terletak pada lantai kelima sebuah gedung, di kanvas yang miring dan tambalan seorang gadis 17 tahun sedang bertinju dengan lawan imajiner. Pada dinding terpampang motto “Hari ini berkeringat, besok juara.” Yang membakar semangatnya bukanlah gambar Muhammad Ali di dinding yang menatap kearahnya.
Yang ada dibenaknya, bayangan ayahnya yang telah mengorbankan posisinya yang baik di Korea Utara serta membahayakan keselamatan diri demi kebebasan anaknya yang berbakat untuk mewujudkan cita-citanya di Korea Selatan. Di Korea Utara ayahnya bekerja diperusahaan negara yang memungkinannya sering ke luar negeri. Keluarga ini hidup berkecukupan, rumah mereka dilengkapi dengan barang-barang Jepang, pakaian anak-anak keluarga ini juga dari Jepang.
Di samping itu semangatnya juga dipompa oleh ibunya yang berdoa dan menangis di sisi ring ketika dia bertarung melawan Xu Chunnyan dari China. Hasilnya dia menggondol gelar juara WBA kelas bulu untuk wanita.
Bahkan sebelum dia memenangkan gelar ini, media berita telah menyoroti latar belakangnya yang menarik dan menjulukinya sebagai “Million Dollar Baby”. Dia mengingatkan orang kepada film Clint Eastwood tahun 2004 yang menceriterakan keuletan seorang petinju wanita.Tapi ini baru merupakan langkah permulaan perjalanan karirnya.
Pada usia 13 tahun dia adalah anak bungsu tapi yang paling kuat di keluarganya. Sejak kecil dia ditakuti di kalangan anak-anak tetangga. Pernah dia menjejar sampai ke rumah seorang anak lelaki yang memukuli abangnya dan menantangnya untuk berkelahi. Untuk menyalurkan energi, ayahnya membelikannya akordion, namun dia tidak tertarik untuk memainkan alat musik.
Keluarga Choi lari dari Korea Utara ke Korea Selatan tahun 2004. Di arena tinju amatir yang dimasuki tahun 2006 gadis ini telah mengumpulan lima gelar nasional. Dari 17 pertandingan dia hanya kalah sekali. Tahun 2007 dia beralih status menjadi petinju pro.
Yang pertama kali mengetahui potensinya adalah pemeritah Korea Utara. Choi yang saat ini tingginya 170 cm, pada masa sekolah di Korea Utara sekepala lebih tinggi dan gerakannya lebih cepat dari teman-teman sebayanya. Karena itu dia didekati oleh pelatih kepala Universitas Pendidikan Kim Chul Yoo yang terkemuka di Pyong Yang.
Di sana dia bersama 19 gadis lainnya dipersiapkan untuk ambil bagian dalam Olimpiade Beijing tahun 2008. Mereka diiming-imingi dengan jatah makanan yang khusus dan peraih medali emas akan diangkat menjadi anggota parlemen. Ternyata Komite Olimpiade berpendapat bahwa belumlah saatnya sekarang untuk memasukkan tinju wanita sebagai cabang olimpiade.
Kalau ditanya kenapa dia bertinju, maka jawabannya “bertinju membuat tubuh Anda elok” lalu memamerkan sebuah ‘pose’ sambil cekikikan. Saya ingin menjadi gadis manis yang bertinju dengan indah katanya. Tapi dalam sport ini Anda juga menerima pukulan-pukulan. Dan sesungguhnya mukanya beberapa kali babak belur sehabis bertanding.
Di Korea Selatan hanya ada 50 petinju wanita. Kebanyakan mereka bertinju untuk mengurangi berat badan dan memperbaiki penampilan. Berbeda halnya dengan Choi. Dia bertinju untuk menunjang keluarganya. Seperti kebanyakan penyeberang lainnya, orangtuanya tidak berhasil mendapatkan pekerjaan. Mereka hidup dari tunjangan yang diberikan pemerintah dan tinggal di apartemen yang kecil. Di samping itu abangnya masih kuliah.
Walaupun dia mempunyai poni seperti anak kecil dan sering tersenyum, tapi ketika berada di ring tinju dia menjadi petinju yang lapar. Berbeda dengan mereka yang bertinju sebagai hobi. Pelatihnya Kim Han Sang ingin menjadikannya sebagai petinju ’sejuta dolar’. Latar belakang Choi mempunyai nilai jual yang tinggi. Poster-poster menggambarkannya sebagai ‘Gadis Petinju Penyebrang Perbatasan’.
Tapi saat ini dia harus memulai lagi latihan rutin 3 kali sehari untuk mempertahankan gelarnya dalam bulan Desember. Dia masih perlu dilengkapi dengan pukulan k.o. kata pelatihnya.
Choi berkeinginan untuk menyapu bersih semua gelar juara dunia di kelasnya dan setelah itu terjun ke industri hiburan. Beberapa bekas atlit sangat berhasil di bidang ini. Untuk mencapainya menurut Choi dia harus seterkenal Laila Ali,
puteri dari petinju terkenal Muhammad Ali.